PMII NEWS Online - Tesis Alvin Toffler tentang tiga gelombang (The Third Wave) peradaban betul-betul mengubah mental manusia menjadi shock. Toffler melihatnya dalam gelombang ketiga tersebut manusia mengalami semacam kekagetan luar biasa dengan arus informasi yang begitu deras. Di mana inklusivitas lebih terbuka lebar dalam segmen kehidupan saat ini. Terlebih yang hangat belakangan ini mengenai berita palsu yang sedang subur diviralkan di beberapa media, yang kita sebut hoax.
![]() |
| Foto: Sahabat Adnan Faqih (Ketua Rayon "Pemberontak" Pandawa) |
Melihat fenomena ini, penulis teringat sebuah film berjudul "Inception" (2010) yang disutradarai oleh Christopher Nolan, dengan pemeran utamanya Leonardo DiCaprio. Film ini mengisahkan tentang Dom Cobbdiperani oleh Leonardo DiCaprioyang berusaha mengambil informasi dari korbannya dengan cara masuk ke dalam mimpi mereka dan menginsepsi pikiran para korbannya. Mimpi tersebut menjadi ruang bagi keseluruhan tim untuk menanamkan pemikiran tertentu ke dalam otak para korban.
Insepsi, atau "gagasan yang ditanamkan ke pikiran" ini nantinya bisa berdampak positif dan bisa juga berdampak negatif, tergantung tujuan penanaman ispespi tersebut. Seseorang yang sudah tertanam insepsi, nantinya akan mencari pembenaran-pembenaran atas berita yang ia dapat.
Jika film ini diseret kepada realitas sekarang, insepsi ini persis seperti berita-berita yang kita dapatkanbaik dari orang langsung atau dari media sosialbedanya proses insepsi dalam film "inception" dilakukan via mimpi, sedangkan realitas yang kita alami proses insepsi dilakukan via oral (mulut ke mulut) dan via media sosial.
Berita hoax bisa menjadi insepsi yang berdampak negatif, karena memang tujuannya yang negatif. Dan di sisi lain insepsi bisa berdampak positif seperti gerakan "Turn Back Hoax" yang dilakukan oleh Netizen NU untuk meluruskan berita hoax. Bahkan Gus Mus mempertegas kepada pemerintah untuk segera menangani masalah peredaran berita hoax tersebut. Oleh karenanya, Gus Mus setuju jika pemerintah memblokir situs-situs yang menebarkan informasi yang tidak benar.
Membincang hal ini dalam sejarah manusia sebenarnya bukanlah barang baru, bangsa-bangsa lain juga pernah mengalaminya. Contoh di Perancis, kira-kira pada abad ke-17 berita hoax menjadi sesuatu yang ironi, sebab berita hoax pada umumnya menghancurkan yang di bawah (tatanan sosial). Tetapi di Perancis sebaliknya, berita hoax dimunculkan dalam rangka ingin menghapus feodalisme yang bergerak dari bawah ke atas (kaum elite) yang melahirkan sejarah revolusi ekonomi (Georges Lefebvre: The Great Fear of 1789; Rural Panic Revolutionary France). Lantas apakah kemudian berita hoax di Indonesia kali ini berdampak sama seperti di Prancis atau malah sebaliknya?
Oleh: Adnan Faqih
(Tulisan ini pernah dimuat dalam media online www.TIMESIndonesia.co.id)

