PMII NEWS Online - Kongres Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) XIX di Palu Sulawesi Tengah (Sulteng) menyisakan cerita kekecewaan terhadap peserta kongres. Forum yang semestinya menjadi aspirasi dan tauladan para kader PMII se Indonesia terkesan hanya milik presidium sidang saja.
Foto: Proses Sidang Pleno Tatib Persidangan Kongres PMII XIX
|
Dan lanjutan pernyataan sahabat Andri mekanisme persidangan yang tidak jelas menjadi pemantik konflik yang sering terjadi dalam berjalannya persidangan. "Opsi yang tidak jelas, afirmasi yang tak dibatasi, serta mekanisme dalam pengambilan keputusan yang diambil secara sepihak seperti menggambarkan presidium sidang tidak paham dalam mekanisme persidangan saja", tambah sahabat dari Kediri disela-sela kongres.
Sekiranya kalau saya boleh berpesan kepada Ketum PB PMII, Ini forum tertinggi yang seharusnya bisa menjadi contoh untuk tataran kaderisasi dibawahnya.
Seharusnya para Pengurus Besar, khususnya presidium sidang bisa memberikan contoh yang baik. Bukan malah bertindak sesuai apa yang menjadi kemauan dia sendiri. "Yang hadir di kongres ini merupakan para kader terbaik yang mewakili daerahnya masing-masing. Malah kita di sini hanya dijadikan boneka untuk mengikuti apa yang menjadi keinginan presidium sidang. Jangan sampai PMII yang sekarang menjadi organisasi kemahasiswaan terbesar di Indonesia beralih fungsi bukan menjadi organisasi kaderisasi lagi", ungkap sahabat Andri salah satu peserta Kongres PMII tersebut. (Adm)

