Menonton sinetron anak muda jaman now yang
judulnya “Kacong Jalanan”, lengkap dengan motor gedhe-nya dan segala ke-trendy-an
lainnya. Sinentron itu tidak mengasyikkan bagiku, kamu tahu kenapa? Yang jelas,
tontonan itu tidak akan menambah kamatangan usiaku, dan yang paling menjengkelkan
bagiku, sinetron itu sangat alay. Ya betul, sebab jamanku masih muda,
aku tak se-alay itu. Gumamku, sembari menunggu Sidrun pulang.
Aku terus mengganti channel televisi, hingga aku berhenti
di tayangan yang jauh lebih aneh dari pada sebelumnya. Kamu tahu tayangan apa
yang aku maksud? Tayangan itu tentang pemuda yang baru dewasa, suka memakai
pakaian hitam, obyek maupun subyek dari kepintarannya berwarna hitam. Yang
paling tidak tahu, kepintarannya itu dibuat-buat atau sungguhan, aku tak
tahu itu. Kamu tahu kenapa? Ya, bagiku ada orang pintar, kerjaanya
malah pintar membuka aib seseorang. Entahlah ilmu apa yang ia pakai,
semoga saja ilmunya masih putih nan suci. Maksudku bukan ilmu hitam.
Akupun berpikir sejenak, kenapa bisa-bisanya tayangan
yang dibuat oleh orang Indonesia kok tidak begitu mengasikkan bagiku. Ah
sudahlah dasar industri bisnis media. Eh, maaf, maksudku industri seni.
Sidrun belum kunjung datang juga, akupun tak tahu apa
yang harus aku lakukan, sebab kedua tayangan televisi itu tidak senikmat di kala istriku tidak tidur malam-malam begini. Iya, maksudku sejak sembilan bulan
yang lalu, aku menemukan kenikmatan di malam hari, itu pun jika istriku tidak
tidur.
Kamu tahu, kira-kira apa yang aku lakukan? Mumpung
istriku tidur, dan kedua tayangan televisi itu menstimuli diriku untuk
mengenang masa lalu. Iya, mengenang masa mudaku. Tapi, tahukah kamu, masa muda
bagian mana yang akan aku ajak bernostalgia? Betul sekali, masa muda saat aku
sedang berpacaran.
Aku adalah pemuda yang meraka anggap berandal. Tidak
hanya mereka sih yang menganggapku berandal, aku sednriripun menganggap
diriku berandal. Namun, bukan berarti meski diriku berandal, aku menjadi orang
yang tak tahu diri, tidak! Aku adalah berandal yang tahu diri, salah satu bukti
bahwa aku tahu diri, adalah aku mengindari untuk berpacaran dengan siapapun. Karena
aku tahu bahwa selain sulitnya menemukan cewek yang mau menerimaku, akupun
tidak tega melihat penderitaan cewek yang menerima keberandalanku ini.
Entah, sedang terjadi peristiwa apa di dalam samudera, kok
bisa-bisanya aku jatuh cinta, dan ia-pun turut mencintaiku. Aku tak tahu alasan
kenapa akhirnya aku berpacaran juga. Anehnya, bukan karena aku akhirnya
berpacaran, tapi kenapa kok dia yang menjadi pacarku? Kamu tahu siapa
pacarku?
Untuk kali ini, kalian salah menebakku. Aku tahu, kamu
akan menganggap bahwa karena aku berandal, sehingga pacarku-pun berandal, tidak!
Pacarku adalah wanita yang cantik, kulitnya putih nan mulus, lulusan pondok
pesantren ternama pula. Ya, kira-kira seperti Pondok Pesantren Al-Amien
Perenduan Sumenep. Tapi, bukan dari Pesantren itu, rahasia-lah, mau tahu saja.
Yang jelas ia merupakan putri satu-satunya dari seorang Kyai di desa. Iya anak
Kyai, bukan Anak Ulama, Habib, Ustad atau apapunlah yang teks-nya bisa kamu
temui di Al-Qur’an. Sebab, kamu tidak akan menemukan istilah “Kyai” dalam
Al-Qur’an, apalagi Al-Hadist, tidak akan!
Aduuuuh “Kyai” memang Indonesia punya. Kemudian meski ia
anak kyai, yang paling penting untuk kamu ketahui adalah ia tidak pakai cadar,
tidak pakai konde juga, cukup berkerudung saja. Seseringkali ia pakai rok, juga
pula pakai celana. Tapi, tidak cekak hingga tubuhnya kelihatan molek,
tidak!
Ketika kita pacaran, aku mengenali latar belakang pacarku
yang namanya Inggit itu. Akupun berkata kepadanya “Sayang, aku telah berikrar
dan disaksikan oleh langit dan bumi, bahwa sebagai wujud cintaku padamu, aku
tidak akan menyentuh kulitmu secuilpun. Jadi, jika kau kelak bertanya kenapa
aku tidak mau menyentuh kulitmu. Maka jawabnya adalah karena aku mencintaimu,
begitupun sebaliknya”
Inggit, hanya tersenyum seraya berkata “halah... Modus
tok. Dasar berandal!”.
“Oke baiklah, lihat saja siapa yang akan menyentuh
duluan... kau atau aku?”, itulah sanggahku. Kamu tidak perlu khawatir, begitulah
cara kita, iya aku dan Inggit dalam berkomunikasi, sangat linier sekali.
Suatu ketika aku dan teman-teman. Ya, tentunya sama
Inggit juga aku pergi ke sebuah pantai untuk menikmati liburan semester. Kamu
tahu pantai mana yang sedang kami tuju? Pantai itu adalah pantai Gili labak di
Sumenep sana. Seperti biasa, di pantai ya berenang, ya berjemur ala
wisawatawan asing dan juga bermain bola bagi yang cowok.
— PMII NEWS Online (@PMIINEWSonline) January 15, 2018
Ketika kami sedang berenang, ada sebuah tragedi yang
membenturkan aku dengan kedilemaan yang maha dahsyat. Kamu tahu apa yang
menyebabkan aku dilema? Inggit itu wanita yang tidak bisa berenang, ketika kami
sedang berenang di tepi pantai ia sedang terseret ombak, dan ia-pun berteriak
meminta pertolongan sambil memanggil-manggil namaku ‘tolong toloooong,...
Sokran tolong...”
Akupun gelisah mendengarnya. Kamu tahu apa yang aku
lakukan?
Sebentar,.. tak terasa kopiku sudah habis, dan sejenak
aku coba keluar rumah untuk menengok adakah Sidrun tiba. Ternyata Sidrun belum
tiba juga, dan akupun pergi ke dapur untuk meracik kopi agar kenang-nostalgiaku
tidak mengantukkan.
Bagaimana, sudah tahu apa yang aku lakukan ketika Inggit
terhanyut ombak? Aku menepi dan menengadahkan kepalaku ke langit. Aku, pria
berandal menantang Tuhan di tempat itu juga “Tuhan, aku tahu bahwa aku adalah
pria berandal. Dan aku yakin, kamu tahu bahwa aku sudah berikrar atas cintaku
padanya. Salahkah aku berikrar demikian, hingga kau takdirkan aku dengan
peristiwa ini? Sekarang apa yang harus aku lakukan Tuhan? Jika aku harus
menolongnya, maka aku harus menyentuh kulitnya. Maka, itu tandanya aku
mengingkari ikrarku yang sekaligus dusta atas ajaranmu. Apa memang itu yang kau
mau Tuhan? Jadi, kau mau aku ingkar dan dusta terhadap ajaranmu”.
Akupun masih menyeru, aku masih membuat perhitungan
dengan Tuhan sebalum aku menantangnya. Kau tahu setelah perhitungan itu usai, apa
yang aku katakan kepada Tuhanku?
Ya, aku lanjutkan untuk menantang Tuhan “Baiklah Tuhan,
jika engkau merestui cintaku dan cara berpacaranku. Maka, tolong selamatkan
Inggit. Aku minta turunkan malaikatmu, dan biarkan malaikatmu itu masuk kepada
salah satu jasad temanku, hingga temanku itulah yang akan membantu Inggit untuk
menepi. Ayo Tuhaaaaaaaan!!!”
Syukurlah temanku menyelamatkannya, Inggit pun menepi,
meski hatiku sedikit cemburu melihat pria itu menyentuh kulitnya. Apa boleh
buat, yang penting Inggit selamat dan pertanda bahwa Tuhan sedang merestui
cintaku dan cara berpacaranku.
Setelah kita sama-sama menepi, Inggit pun aku tanyakan bagaimana
kronologinya, hingga ia terhanyut ombak? Setalah ia jawab, ia pun balik tanya
kepadaku “Kenapa kamu tak menyelamatkanku?”
Akupun menjawabnya “Jasadku memang tidak
menyelamatkanmu... tapi percayalah bahwa aku turut menyelamatkanmu. Kamu kan
tahu bahwa wujud cintaku padamu adalah dengan tidak menyentuh kulitmu.
Memangnya kau mau, jasadku yang menyelamatkanmu, hingga aku mengingkari
sumpahku?”, tanyaku kepada Inggit.
Inggit pun menjawabnya dengan santai, begitulah pacarku
“Ya sudah, yang penting aku selamat dan kau tetap terjaga dari pengingkaran
sumpahmu”.
Seusai dari pantai, aku bersama teman-teman bergegas
untuk lanjut pulang. Namun, karena teman-temanku ingin pulang duluan, akhirnya
akupun tidak bisa menghalangi mereka. Aku dan Inggit pun pulang belakangan. Bagaimana aku bisa memaksa Inggit langsung pulang, sedang ia masih kaget dengan
tragedi itu.
Alhamdulillah, waktu yang ditunggu-tungngu telah datang, Sidrun pun tiba dan ia mengembalikan sepeda motornya. Kemudian aku bertanya kepadanya “Kamu beli sesuatu apa? Untuk siapa?”
Alhamdulillah, waktu yang ditunggu-tungngu telah datang, Sidrun pun tiba dan ia mengembalikan sepeda motornya. Kemudian aku bertanya kepadanya “Kamu beli sesuatu apa? Untuk siapa?”
#PMIINEWSOnline Download E-Book, Aidit Dua Wajah Dipa Nusantara https://t.co/BtMIeP2e0B— PMII NEWS Online (@PMIINEWSonline) January 14, 2018
“Aku beli batik couple Cak Kran untuk hari anniversary ku
nanti dengan si Dia, pacaraku”, jawabnya dengan congkak.
Surabaya, 7 April 2018Saring Sebelum Sharing https://t.co/WqvpnyRoiE pic.twitter.com/rOtWonOyNe
— PMII NEWS Online (@PMIINEWSonline) April 30, 2018
(Ini adalah cerpen ketiga, lanjutan dari cerpen sebelumnya di suaranusantara.net dan cabarus.com)
| Penulis: | Bung Sokran |
|---|

