PMII NEWS Online, Resensi Buku - Sebelum berbicara mengenai apa
yang dibahas oleh penulis dalam buku ini, perkenankan saya untuk sedikit
terlibat dalam perdebatan publik mengenai gerakan radikalisme. Saya tidak
memungkiri bahwa agama memiliki potensi besar untuk membuat orang menjadi
radikal, bahkan militan. Akan tetapi, tentu tidak bisa kita generalisasi bahwa
benih-benih radikalisme ada secara inheren
pada agama, terutama agama Islam yang selama ini nyaris selalu
diidentikkan dengan paham radikal itu sendiri.
Dan, yang perlu dipahami adalah, istilah radikal — yang
akhir-akhir ini terus-menerus menjadi perbincangan — jangan serta-merta
dipahami sebagai gerakan yang hanya berafiliasi ke satu agama tertentu. Istilah radikal bisa merujuk
pada setiap gerakan apa saja yang secara frontal melakukan atau menanamkan
benih-benih pembangkangan, katakanlah paham liberalisme dan paham anarkisme.
Kelompok-kelompok yang disebut terkahir ini sama bahayanya dengan paham Sslam
garis keras, yaitu sama-sama berpotensi memecah belah kesatuan bangsa.
Nah! Titik inilah yang ingin diklarifikasi oleh penulis
melalui bukunya. Penulis ingin menunjukkan bahwa PMII tidak seperti itu. Dengan kata lain, Ideologi PMII memilki dasar
ke-Islam-an dan keilmuan yang sejalan dengan cita-cita luhur agama Islam dan
Pancasila.
#PMIINEWSOnline Resensi Buku Islamku Pergerakanku https://t.co/47lAVRdw28
— PMII NEWS Online (@PMIINEWSonline) November 11, 2018
Mengingat banyaknya paham-paham dan ideologi yang
berkembang sekarang ini, terutama di lingkungan akademik, maka buku ini sangat
tepat dijadikan sebagai buku pegangan (Handbook) bagi para pemuda-pemudi yang
hendak melepaskan masa abu-abunya menuju bangku perkuliahan. Apa sebab? Karena
isinya tidak hanya tentang PMII dan ideologinya, melainkan juga tentang sejarah
peta pergerakan pemikiran Islam, termasuk juga mengenai sejarah masuknya Islam
di Indonesia. Bahkan penjelasan mengenai paham Ahlu Sunnah Wa Al Jamaah (ASWAJA) yang
dianut oleh banyak orang di Indonesia, terutam oleh NU dan PMII sendiri
dijelaskan dengan cukup terperinci dan mudah dimengerti. Begitu juga dengan
penjelasan mengenai sejarah masuknya Islam di Nusantara, yang kemudian menjadi
ciri khas ke-Islam-an yang berkembang di Indonesia. Singkat kata, buku ini
(sepertinya) memang sengaja dibuat sebagai pegangan bagi siapapun yang ingin
mengenal PMII lebih jauh, lebih-lebih bagi mereka yang tertarik bergabung
menjadi anggotanya.
Dari hasil bacaan saya mengenai buku ini, ada beberapa
poin yang saya temukan: Pertama, buku ini bisa digunakan sebagai konter wacana
terhadap wacana Islamfobia dan Islam garis keras; Kedua, buku ini cukup
membantu dalam memahami sekte-sekte yang ada dalam Islam; Ketiga, urutannya
sistematis, bahasanya ringan dan tidak bertele-tele. Akan tetapi, terlepas dari
semua itu, ada satu hal yang tidak saya dapati dalam karya ini, yaitu analisis
kritis penulis. Topik yang dibahas memang cukup luas, tapi cenderung naratif
dan sama sekali tidak argumentatif. Kesannya seperti sekedar memindahkan
tulisan dari satu tempat ke tempat yang lain.
Padahal poin ini sangat penting
untuk dibicarakan secara ilmiah dan terbuka. Hal ini juga cukup
menentukan bagi penulis. Di sana kita
bisa melihat orsinilitas dan penguasaan penulis terhadap materi-materi yang ia
bicarakan.
Selebihnya adalah ucapan apresiasi kepada penulis yang
telah membuktikan bahwa tidak semua mahasiswa, terutama aktivis-gerakan di zaman milenial ini buta dan lupa akan
pentingnya budaya literasi. Karena memang, menulis adalah pekerjaan berat dan
bernilai, yang tidak mungkin dilakukan oleh orang-orang murahan dan berpikiran
instan.
| Oleh: |
|---|
| Muhammad Yunus |


