![]() |
| Foto: Andrik Hadi Prasetiyo, Bendahara Umum PKC PMII JATIM |
Dalam proses rekapitulasi bukan berarti selesai semua tahapan-tahapan pesta Demokrasi di Indonesia. Konfilk identitas dan konflik golongan semakin tidak mendewasakan masyarakat Indonesia, seperti yang diutarakan sahabat Andri Hadi Prasetiyo Bendahara Umum PKC PMII JATIM (Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Jawa Timur) dalam kunjungannya kemarin di Malang (20/04/2019).
"Saat ini gejala perpecahan bangsa semakin terasa karena politik identitas semakin kental," jelasnya.
Dia juga membenarkan gejala perpecahan tersebut semakin diprovokasi dan disiram dengan berita hoax, perpaduan ini yang mempengaruhi persepsi dan perilaku masyarakat yang akan berbahaya.
"Jangan bilang yang terjadi di Suriah tak bisa terjadi di Indonesia jika tidak diantisipasi benar dan jangan sampai sebab adanya pemilu ini warga terbelah hanya karena perbedaan pilihan politik," tambah Bendahara Umum PKC PMII Jawa Timur.
Pemilu di Indonesia sendiri merupakan kontestasi memilih pemimpin yang nantinya disepakati menjadi pemimpin negara, dari konteks ini masyarakat perlu mendapatkan pemahaman bahwa semua pihak boleh mengajukan calon pemimpinnya.
Sehingga pemimpin yang terpilih harus diakui dan diikuti sesuai hukum serta perundangan yang berlaku.
PKC PMII Jawa Timur mengajak masyarakat berfikir cerdas agar kesatuan Indonesia tetap bisa kita jaga bersama dan tidak mudah terprovokasi oleh isu atau berita yang belum tentu benar pemberitaannya.
Andrik juga mengingatkan mari gunakan akal waras kita untuk menerima semua informasi yang beredar.
"Karena menggunakan akal sehat saja belum tentu kita bisa menerima semua informasi yang sekarang beredar, karena yang sehat belum tentu mereka waras," ungkapnya sebelum beliau melanjutkan perjalanan ke Kediri.
| Pewarta : | Editor : |
|---|---|
| Kaderizen | AamNh7 |


