![]() |
| Foto: Bung Hamdi, Ketua Umum Cabang PMII Jember |
"Menjelang 4 tahun ibu Faida memimpin sepertinya banyak program kerja yang tidak inline sebagaimana janji kampanye, pertama perihal keterlambatan pengesahan RTDRK (Red:Rencana Detail Tata Ruang Kabupaten) yang sudah molor sejak 2017 bahkan terancam tidak selesai sampai periode kepemimpinannya habis," kata ketum cabang PMII Jember itu.
Kedua kesemrawutan pengelolaan pasar modern yang acap kali ditempatkan di lokasi yang berdekatan dengan pasar tradisional ini membunuh masa depan pedagang kecil.
"Dan melanggar peraturan daerah pasar modern itu sendiri sekaligus menghindari janji kampanye bupati tentang pemberdayaan pasar tradisional berkelanjutan ini juga berkait erat dengan kemoloran pengesahan RTDRK itu sendiri" tegas mahasiswa UIJ.
Selanjutnya PMII Jember juga mengkritik kian membengkaknya Sisa Lebih Penggunaan Anggaran (SILPA) dan defisit APBD Jember yang kian tahun semakin amburadul lalu kemarin diganjar laporan keuangan WDP (Wajar Dengan Pengecualian) oleh Badan pemeriksa keuangan (BPK).
Terakhir bung Hamdi sapaan akrab pemuda 25 tahun itu meminta Bupati Jember melakukan evaluasi menyeluruh atas menjelang 4 tahun kepemimpinannya
"Dulu bupati Faida mengkritik kinerja pemerintahan sebelumnya yang menurutnya auto-pilot, kini bupati Faida perlu bercermin atas kinerjanya sendiri karena gejala lama seperti pungutan liar, kasus korupsi beberapa kepala dinas," lanjut Hamdi.
Kemudian masalah baru semacam ratusan lubang aspal, perampasan tanah rakyat yang tidak sesuai peruntukan, serta polemik insentif guru ngaji pada era kepemimpinan bupati Faidah.
"Mari kita evaluasi bersama untuk menatap Jember yang lebih baik ke depan, kalau begini, seperti kita terbang dengan pesawat tanpa pilot," tutup Ahmad Hamdi Hidayatullah.
| Pewarta : | Editor : |
|---|---|
| Kaderizen | AamNh7 |


